Posted on 21 April 2013 oleh gen22
Perpisahan Menjadi Luka
oleh jumaida kartini manullang
Langit begitu marah
Terluka dari sebuah amarah
Meskikah aku selalu menyulitkan hidupku
Meski waktu tak berpihak selalu
Apakah takdir sedang mempermainkan duniaku
Tiada henti merayu menunggu kesulitan bagiku
Sungguh setengah rindupun tak terbalaskan untukmu
Apakah aku ingin tetap berada di noda dustamu
Masih adilkah kesepian seolah bercanda untukku
Membiarkan perasaan selalu bersedih dihatiku
Mampukah aku menjaga mahkota cintamu
Yang selalu dirajai oleh keegoisan dan kebohonganmu
Kadang berharap selalu berkata membiasakan
Namun adakah kamu memiliki cinta diawal perkenalan
Mungkin matahari esok berkata menutup fajar
Perlahan menjadi akhir jeritan yang sanggup tertidur
Filed under: Sedih | Tagged: puisi sedih perpisahan, puisi perpisahan menjadi luka, puisi luka karena perpisahan | No Comments »
Posted on 21 April 2013 oleh gen22
Puisi Perpisahan Sahabat
oleh: Segaca Galuh
Hening malam
Temani langkah kakimu tuk berpijak
Sinar rembulan
Terangi jalanmu tuk kembali
Kata maaf yang kau ucap sebelum kau pergi.,
Slalu ku ingat dalam benaku
Senyum lugu dari bibirmu.,
Slalu terbayang olehku
Mungkin ini yang terbaik
Tapi bukan ini yang kuingin
Nukan ini yang kuharap
Bukan perpisahan
Filed under: Sahabat | Tagged: Puisi perpisahan sahabat, perpisahan dengan sahabat, puisi perpisahan untuk sahabat, puisi berpisah dari sahabat | No Comments »
Posted on 21 April 2013 oleh gen22
Jalan Terbaik
Puisi Perpisahan karya Akbar Dwi Andhika
Mungkin jalan terbaik adalah perpisahan . . .
Tak mungkin aku harus menunggu tentang cinta yg dulu pernah ada . . .
Karena aku hanyalah manusia yg mempunyai hasrat dan membutuhkan cinta . .
Tak mungkin juga ku sendiri menunggu . .
Karena ku yakin,belum tentu juga kau memikirkanku . . .
Semua cukup sampai disini saja.
Terima kasih atas semuanya.
Kini ku kan beranjak bangkit dari penantian ini.
Mencari sebuah cinta yg lain,hingga saatnya mungkin kan bisa membuatku
bahagia.
Filed under: perpisahan | Tagged: Puisi jalan terbaik | No Comments »
Posted on 21 April 2013 oleh gen22
Akhir Kisah Kita
Puisi Perpisahan karya Emmang Andara
waktu terus bergulir sayang…
dan kita belum saling menemukan…
lalu aku bertanya apa kita selama ini….
menggenggam tangan namun tak pernah menatap lubuk hati…
waktu terus bergulir sayang…
tentang janji itu dimana hilangnya…
ikrar kau dan aku tersenyum di kaki langit…
bersama selamanya…
hanya cerita terbawa angin lalu raib…
waktu terus bergulir sayang…
lelah kumenagih ucap dari bibirmu…
mungkin aku takkan bicara lagi….
hanya senyum sesal kuukir…
saat ku pergi dari hadapmu…
untuk selamanya…
Filed under: perpisahan | Tagged: Akhir kisah, kisah cinta | No Comments »
Posted on 3 September 2010 oleh gen22
MALAM YANG LUAR BIASA
malam yang bagiku pengobat rindu
malam yang bisa mempertemukanku dengan daun keringku
malam itu pohon-pohon PAHALA KENCANA yang luar biasa
akan berjajar memagar di mulut gua
kemudian menunduk merukuk
malam itu di luar gua langit begitu telanjang
tak sehelai mega mendung menutupi
bintang-bintang benderang begitu seksi
semua begitu nyata
di balik punggung gua menghampar pasir-pasir pesisir yang berfikir
membaca kejanggalan yang ditetapkan
SEGARA berubah rasa
tak lagi garam menyengat
lidah mati tak mencicip rasa
semuanya tawar.
——————————
Filed under: Puisi Ainul Hidayat | Tagged: malam, puisi malam, rindu, pengobat rindu, puisi pengobat rindu, langit, puisi langit, telanjang, seksi | 1 Comment »
Posted on 3 September 2010 oleh gen22
ARTESIS SAHRI
ada tujuh lubang yang dalam
tiap lubang menanamkan ranjau merah
menumbuhkan sejuta jarum neraka
lubang yang mengingatkan kita agar berhati hati dalam melangkah
selain itu tiap lubang juga mengalirkan tirta surga
setetes tirta mamapu mengkecambahkan biji dalam sehari
setetes tirta mampu menopangkan tujuh dahan kenikmatan
sedahan mencarang sepuluh ranting keberkahan
seranting menghiaskan sepuluh macam buah kemukjizatan
lalu kutadah tanya lirih
di mana daun yang biasa merimbun ranting-ranting
gugurkah?
belum tumbuhkah?
atau sengaja pergi meninggalkan POHON PAHALA KENCANA
meranggas mencari daun kering
saudara tertuanya
kabar angin itu menarikku- menjatuhkanku dari gelantungan musim-musim kepompongku
menderahku- melatihku agar aku kuat
agar aku terbiasa jika harus jatuh
aku harus mampu membuat tersenyum seribu malaikat ketika nanti aku mampu mengepakkan sayap pertamaku
aku tidak ingin terjatuh lagi
hanya merangkak di punggung bumi
ditertawakan jejak-jejak sinis matahari
mengepakkan sayap hingga pada waktunya
sekarang aku masih setia
menyendiri diam dalam serat sutra yang memopong
melindungiku dari matahari yang tiba-tiba bisa datang tanpa perhitungan bintang
bukan diam dengan menyembunyikan perhitungan IMAJINER
karena perhitungan yang benar masih terbatas asumsi kekalnya angka istimewa di depan angka genap
——–
di dalam GUA ASSIYAM tempatku berdiam diri
tak lama lagi malam akan penuh cahaya
seribu bulan purnama akan singgah melafalkal muartal Al.Qadar
yang hanya mengusik dan didengar kepompong yang sadar
Filed under: Puisi Ainul Hidayat | Tagged: hari, puisi matahari, arthesis, purnama, kepompong, imajiner, bintang, setia | 2 Comments »
Posted on 3 September 2010 oleh gen22
MATAHARI
musuh sekaligus guruku dikemudian hari
sebelum aku menjadi kepompong
aku sadar kau selalu hadir dalam pencarianku
di pagi hari kau mata-matai aku dibalik mega mendungmu
di siang hari kau tepatkan bayang lamunanku menjadi satu titik dengan tubuhku
di soreh hari kau kirimkan senja merah sebagai pendeteksi lamunanku dalam remang sunyi
di malam hari……
kukira kau tak berani
aku berfikir kau hanya hebat saat syuruk hingga maghrib
aku salah lagi
kau malah lebih berbahaya
kau pagari aku dengan mantra mahabah agar aku takluk terbuai kebesaran namamu yang tersembunyi
kau buat aku tak berdaya menopang sebonggol mimpi hijau
————————
biarlah
sekarang aku hanya ingin menjadi kepompong tua
————————
kudengar sebuah berita dari angin malam
angin yang keluar dari artesis sahri
Filed under: Puisi Ainul Hidayat | Tagged: matahari, puisi matahari, guruku, senja merah, sunyi, mimpi, angin, malam | 4 Comments »
Posted on 3 September 2010 oleh gen22
DAUN KERING-KEPOMPONG TUA
DAUN KERINGKU aku tahu ketiadanmu yang semu mampu menebalkan keberadaanku
membisikkan MUARTAL teduh di kedua telingaku
membopongku menjadi kepompong tua
KEPOMPONG TUA yang harus bersila menjadi pertapa
di GUA ASSIYAM yang indah
TIGA PULUH hari aku harus berlatih memetamorfosiskan diri
melepaskan bulu-bulu syariati yang gatal
hingga tebungkus penuh kafan putih yang terbuat dari sutra hakiki
tiga puluh hari aku harus menahan diri
menghindari matahari
musuh sekaligus guru dikemudian hari
—–
fajar sidik mennyingsingkan cahaya putih
mengusik diamku yang melintang dalam pembaringanku
kemudian Syuruk menteror
seperti biasanya
kini ia datang dimulut gua
membiaskan fatamorgana
menggodaku dengan gambaran nikmatnya seteguk tirta
beruntung ada seekor laba-laba yang melindungiku dengan jaring-jaring keyakinan
ia selalu mengingatkanku agar aku tidak tergoda dengan kenikmatan tirta yang sementara
Aku harus tetap menjadi kepompong tua
tidak sia-sia bertapa di gua hingga aku dapat menjadi kupu-kupu yang indah
mengepakkan SAYAP-SAYAP SEWARNA
kan ku jelajahi taman setaman
kan kucari persinggahan dimana daun keringku setia menunggu.
Filed under: Puisi Ainul Hidayat | 1 Comment »
Posted on 2 Agustus 2010 oleh gen22
Puisi Perpisahan IV
KEPASTIAN ~ ‘ Gus Fet
Perpisahan adalah kepastian
Waktu berjalan, tak bisa di mundurkan
Berjalan pelan, tak bisa dimajukan
Kematian adalah keniscayaan
Tak bisa di tolak, tatkala ia datang
Tak bisa diminta, takala hidup bosan
Perpisahan…oh…kepastian
Kematian…oh…keniscayaan
Janji tuhan, pasti datang
Hari akhir adalah janji tuhan
Tak mengerti, waktunya kapan datang
Tak tahu diterima, nikmat atau siksaan
Perpisahan adalah kepastian
Kematian adalah keniscayaan
Filed under: Tak Berkategori | Tagged: Puisi, perpisahan, kematian, waktu, tuhan, hari, akhir, bosan, janji | 3 Comments »
Posted on 2 Agustus 2010 oleh gen22
Puisi perpisahan III
Keseorang ~ iben nuriska
Masih saja basah.
Sepertinya puisi tak hendak
sampai ke tidur tak berigau ke jaga yang bara.
Api masih dipadamkan hujan.
Tak ada puisi bunga.
Selalu angin bawa awan hitam
di gantungan jemuran.
Masih saja basah.
Kapan kita akan bersajak
Seperti muda yang gagah
Seperti jelita dengan pesona
Seperti cinta dan asmara
Seperti wangi dari dupa
Mungkin pergimu adalah isyarat
Takkan dewasa anak selamanya dikepit ketiak.
Batu belah 110109
Filed under: Tak Berkategori | Tagged: Puisi, perpisahan, seorang, dewasa, anak | 1 Comment »