Malam Yang Luar Biasa

MALAM YANG LUAR BIASA

malam yang bagiku pengobat rindu
malam yang bisa mempertemukanku dengan daun keringku

malam itu pohon-pohon PAHALA KENCANA yang luar biasa
akan berjajar memagar di mulut gua
kemudian menunduk merukuk

malam itu di luar gua langit begitu telanjang
tak sehelai mega mendung menutupi
bintang-bintang benderang begitu seksi
semua begitu nyata

di balik punggung gua menghampar pasir-pasir pesisir yang berfikir
membaca kejanggalan yang ditetapkan

SEGARA berubah rasa

tak lagi garam menyengat
lidah mati tak mencicip rasa
semuanya tawar.

——————————

Arthesis Hari

ARTESIS SAHRI

ada tujuh lubang yang dalam
tiap lubang menanamkan ranjau merah
menumbuhkan sejuta jarum neraka
lubang yang mengingatkan kita agar berhati hati dalam melangkah

selain itu tiap lubang juga mengalirkan tirta surga
setetes tirta mamapu mengkecambahkan biji dalam sehari
setetes tirta mampu menopangkan tujuh dahan kenikmatan
sedahan mencarang sepuluh ranting keberkahan
seranting menghiaskan sepuluh macam buah kemukjizatan

lalu kutadah tanya lirih
di mana daun yang biasa merimbun ranting-ranting

gugurkah?
belum tumbuhkah?
atau sengaja pergi meninggalkan POHON PAHALA KENCANA
meranggas mencari daun kering
saudara tertuanya

kabar angin itu menarikku- menjatuhkanku dari gelantungan musim-musim kepompongku
menderahku- melatihku agar aku kuat
agar aku terbiasa jika harus jatuh

aku harus mampu membuat tersenyum seribu malaikat ketika nanti aku mampu mengepakkan sayap pertamaku
aku tidak ingin terjatuh lagi
hanya merangkak di punggung bumi
ditertawakan jejak-jejak sinis matahari

mengepakkan sayap hingga pada waktunya

sekarang aku masih setia
menyendiri diam dalam serat sutra yang memopong
melindungiku dari matahari yang tiba-tiba bisa datang tanpa perhitungan bintang
bukan diam dengan menyembunyikan perhitungan IMAJINER
karena perhitungan yang benar masih terbatas asumsi kekalnya angka istimewa di depan angka genap

——–

di dalam GUA ASSIYAM tempatku berdiam diri
tak lama lagi malam akan penuh cahaya
seribu bulan purnama akan singgah melafalkal muartal Al.Qadar
yang hanya mengusik dan didengar kepompong yang sadar

Matahari - Puisi Perpisahan

MATAHARI

musuh sekaligus guruku dikemudian hari

sebelum aku menjadi kepompong
aku sadar kau selalu hadir dalam pencarianku
di pagi hari kau mata-matai aku dibalik mega mendungmu
di siang hari kau tepatkan bayang lamunanku menjadi satu titik dengan tubuhku
di soreh hari kau kirimkan senja merah sebagai pendeteksi lamunanku dalam remang sunyi
di malam hari……
kukira kau tak berani
aku berfikir kau hanya hebat saat syuruk hingga maghrib
aku salah lagi
kau malah lebih berbahaya
kau pagari aku dengan mantra mahabah agar aku takluk terbuai kebesaran namamu yang tersembunyi
kau buat aku tak berdaya menopang sebonggol mimpi hijau

————————
biarlah
sekarang aku hanya ingin menjadi kepompong tua
————————
kudengar sebuah berita dari angin malam
angin yang keluar dari artesis sahri

Daun Kering Kepompong tua

DAUN KERING-KEPOMPONG TUA

DAUN KERINGKU aku tahu ketiadanmu yang semu mampu menebalkan keberadaanku
membisikkan MUARTAL teduh di kedua telingaku
membopongku menjadi kepompong tua

KEPOMPONG TUA yang harus bersila menjadi pertapa
di GUA ASSIYAM yang indah

TIGA PULUH hari aku harus berlatih memetamorfosiskan diri
melepaskan bulu-bulu syariati yang gatal
hingga tebungkus penuh kafan putih yang terbuat dari sutra hakiki

tiga puluh hari aku harus menahan diri
menghindari matahari
musuh sekaligus guru dikemudian hari

—–

fajar sidik mennyingsingkan cahaya putih
mengusik diamku yang melintang dalam pembaringanku
kemudian Syuruk menteror
seperti biasanya
kini ia datang dimulut gua
membiaskan fatamorgana
menggodaku dengan gambaran nikmatnya seteguk tirta

beruntung ada seekor laba-laba yang melindungiku dengan jaring-jaring keyakinan
ia selalu mengingatkanku agar aku tidak tergoda dengan kenikmatan tirta yang sementara

Aku harus tetap menjadi kepompong tua
tidak sia-sia bertapa di gua hingga aku dapat menjadi kupu-kupu yang indah
mengepakkan SAYAP-SAYAP SEWARNA
kan ku jelajahi taman setaman
kan kucari persinggahan dimana daun keringku setia menunggu.

Puisi Perpisahan - Gus Fet

Puisi Perpisahan IV

KEPASTIAN ~ ‘ Gus Fet

Perpisahan adalah kepastian

Waktu berjalan, tak bisa di mundurkan

Berjalan pelan, tak bisa dimajukan

Kematian adalah keniscayaan

Tak bisa di tolak, tatkala ia datang

Tak bisa diminta, takala hidup bosan

Perpisahan…oh…kepastian

Kematian…oh…keniscayaan

Janji tuhan, pasti datang

Hari akhir adalah janji tuhan

Tak mengerti, waktunya kapan datang

Tak tahu diterima, nikmat atau siksaan

Perpisahan adalah kepastian

Kematian adalah keniscayaan

Puisi Perpisahan - Iben Nuriska

Puisi perpisahan III

Keseorang ~ iben nuriska

Masih saja basah.
Sepertinya puisi tak hendak

sampai ke tidur tak berigau ke jaga yang bara.

Api masih dipadamkan hujan.

Tak ada puisi bunga.

Selalu angin bawa awan hitam

di gantungan jemuran.

Masih saja basah.

Kapan kita akan bersajak

Seperti muda yang gagah

Seperti jelita dengan pesona

Seperti cinta dan asmara

Seperti wangi dari dupa

Mungkin pergimu adalah isyarat

Takkan dewasa anak selamanya dikepit ketiak.

Batu belah 110109

Puisi Perpisahan - Bagaimana Bisa?

Puisi perpisahan II

Bagaimana Bisa ~ Yustitia

Bagaimana mungkin

Mentari berkabung dalam selimut gelap

Sedang tak satupun angin bersenandung

Ratap perih menggema dalam kotak sunyi berduri

Ingin pergi

Ingin lalui

Namun tak satupun kuda hendak bergeming

Hanya diam

Tak bicara

24 januari 2009

Puisi Perpisahan Kahlil Gibran

Puisi perpisahan I

PERPISAHAN ~ Kahlil Gibran

Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan - seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.

Puisi Perpisahan - Di Ujung Pagi

DI UJUNG PAGI

Mengapa bahagia beranjak pergi?

Jauh kudekap, ditepis sunyi mencercap

Sementara, tak sedikitpun kakiku bergerak meninggalkan penantian yang kusekap

Di batas rindu, menyekat cinta dalam pedih yang meratap

Dengan apa lagi kugambarkan jujur dan tulusku?

Aku terbentur jawab yang belum juga terungkap

Dijerat mimpi semu tanpa penghabisan yang merekat

Di ujung pagi, aku tercekat

Mendambamu, setiap saat

(Mayank Ponimiring II **  bibirmerahmembabibuta at yahoo.com)
Sabtu, Juli 03, 2010

Puisi Perpisahan - Senja Merah Jambu

Senja Merah Jambu

Di senja merah jambu

yang merona seperti pipimu

aku pernah menaburkan mimpi

kau pun menyandarkan harapan bukan?

dan kita sama-sama mengumbar kemesraan

lalu mendung menggulung

satu lagi kemesraan yang robek

dalam gerimis

sementara aku belum mencatatnya sebagai kenangan

sementara kau masih saja menyalahkan waktu

dan aku memaki gurat-gurat takdir

Ah,

inilah cinta kita

serpihan mimpi yang kuhamburkan

mungkin sebagai kenangan yang luput dari ingatan